Penggunaan sumber energi fosil sebagai bahan utama pembangkit listrik tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di banyak negara di dunia, seperti China, India, bahkan Amerika. Dari 435 GW listrik yang dihasilkan pada tahun 2013 di Indonesia, pembangkit listrik menggunakan 44% atau sekitar 20GW bersumber dari batu bara, 26% atau sekitar 12GW bersumber dari gas bumi, 15% atau 6,8 GW dari minyak bumi, dan sisanya berasal dari air (PLTA), panas bumi, dan lainnya.

Batu bara, gas bumi, dan minyak menjadi sumber utama pembangkit listrik karena jumlahnya masih banyak di bumi dan listrik yang dihasilkan stabil jika pasokan sumber ada secara terus menerus. Namun, benarkah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui tersebut akan ada selamanya? Tentu tidak.
Negara kita yang terkenal kaya akan bahan tambang dan minyak bumi saja sudah diprediksi akan mengalami defisit. Jika diasumsikan tidak ada penemuan sumber energi fosil lagi, maka cadangan minyak bumi Indonesia sebesar 3,6 M barel akan habis dalam 13 tahun, cadangan gas bumi sebesar 100,3 TCF akan habis dalam 34 tahun, dan cadangan batu bara sebesar 31,35 M ton akan habis dalam 72 tahun. Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika kita tidak mencari sumber alternative lainnya sedangkan jumlah populasi di Indonesia bahkan dunia akan selalu bertambah dan kebutuhan listrik selalu menginkat.
Belum lagi efek lingkungan yang dihasilkan dari sisa pembakaran batu bara dan minyak. Kemana residu berupa emisi CO2 tersebut pergi? Mereka akan menumpuk dan terurai lama di atmosfer bumi karena kecepatan tumbuhan dan laut untuk menyerap CO2 jauh kalah cepat dengan meningkatnya konsentrasi CO2. Inilah yang saat ini tengah menjadi isu lingkungan dunia, yang lebih dikenal dengan efek rumah kaca yang menyebabkan pemanasan suhu bumi secara global (global warming). Selain kenaikan suhu bumi, efek dari global warming adalah kemarau yang berkepanjangan, pengingkatan air laut, dan perubahan iklim di bumi.
Tahukah anda, penghasil emisi CO2 terbesar adalah berasal dari pembangkitan listrik? Berikut adalah diagaram data sector pembangunan penghasil CO2 di dunia pada tahun 2010 diambil dari International Energy Agency (IEA).

Terlihat bahwa pembangkit listrik dan penghasil panas lainnya menyumbangkan CO2 terbanyak mencapai 41.2%. Negara besar dan berteknologi canggih seperti Amerika bahkan telah menjadi penghasil CO2 kedua terbesar di dunia pada tahun 2013, dimana 33% nya disumbangkan dari sisi pembangkit listrik. Sedangkan Indonesia menempati urutan ke-16.
Satu-satunya cara untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik adalah dengan menggunakan sumber pembangkit energi baru terbarukan (EBT) atau lebih dikenal dengan Renewable Energy. International Renewable Energy Agency (IREANA) pada laporannya di “REmap 2030” berambisi untuk melipatgandakan bauran energi terbarukan di seluruh energi dunia, dengan target penggunaan EBT sebesar 36% dari bauran sumber pembangkit listrik seluruh negara. IRENE menyebutkan sampai tahun 2014 sudah ada 144 negara yang telah menargetkan penggunaan EBT di negaranya masing-masing, termasuk Indonesia. Pemerintah Indonesia mendukung penggunaan renewable energy untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dengan mengeluarkan Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang tertuang dalam PP No. 70 tahun 2014. Pada kebijakan tersebut, pemanfaatan EBT dalam bauran energi nasional minimal 23% pada tahun 2025 dan akan terus meningkat sampai 31% pada tahun 2050. Bisa dilihat antusias pemerintah dalam peningkatan pemanfaatan EBT pada grafik di bawah ini.

Sumber energi yang berasal dari matahari, angin, air, laut atau samudra menjanjikan pembangkitan listrik yang ramah lingkungan dan continue. Bagaimana tidak, sumber-sumber tersebut kita sadari jumlahnya tidak terbatas di bumi dan akan selalu ada. Terlebih Indonesia yang merupakan negara tropis di bawah garis khatulistiwa serta diapit dua samudra, yaitu Hindia dan Pacific, memiliki potensi besar dalam mengembangkan EBT. Berikut adalah beberapa potensi sumber pembangkit EBT yang ada di Indonesia.
- Mikro Hidro
Pembangkit listrik mikro hidro (PLTMH) menggunakan arus air sungai untuk menghasilkan listrik. Aliran air sungai diatur ketinggiannya untuk mendapatkan debit air yang tinggi dan stabil yang bisa memutar generator dan membangkitkan listrik. Aliran sungai dapat menggunakan aliran yang alami atau dibuat dengan mengubah arah aliran untuk mengatur ketinggian sungai. Pada tahun 2013, menurut data kementrian ESDM, PLTMH telah menyumbangkan 8.78% atau sektiar 46,428 MW jaringan listrik Indonesia dari total resources yang ada sebesar 75.000 MW.
- Angin
Indonesia yang merupakan negara kepulauan cocok memanfaatkan angin sebagai sumber pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Menurut data EBTKE pada tahun 2013, kapasitas PLTB menyumbankan 1,96 MW listrik. Angka ini memang tidak begitu besar karena riset penggunaan PLTB di Indonesia masih berlangsung dengan kecepatan angin rata-rata 3 sampai 6 m/sec. Namun berdasaarkan data dari Energy Policy Review Indonesia, potensi energi angin di Indonesia mencapai 9.290 MW.
- Matahari
Indonesia beruntung disinari Matahari sepanjang tahun. Sinar matahari ini dapat digunakan sebagai pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan menggunakan teknologi photovoltaic (PV) atau sel surya. Material PV terdiri atas semikonduktor yang apabila terkena matahari dengan panjang gelombang cahaya tertentu akan dapat melepas elektron dan ketika dihubungkan dengan kutub yang berbeda, aliran listrik akan mengalir. Potensi PLTS di Indonesia mencapai 4,8 kWh/m2/hari. Menurut data dari ditjen EBTKE, kapasitas PV yang telah terpasang sampai tahun 2014 sebesar 19.2 MW.
- Laut atau samudra
Dua pertiga luas Indonesia adalah berupa lautan. Diapitnya Indonesia dengan Samudra Hindia dan Pacific membuat laut di Indonesia dilewati oleh perubahan arah angin dunia sehingga memiliki potensi pemanfaatan arus dan ombak di laut untuk dijadikan sumber pembangkit listrik. Potensi laut untuk pembangkit listrik di Indonesiea mencapai 49 GW jika dimanfaatkan secara maksimal. Angka yang sangat besar bukan?
Dukungan dari Pemerintah untuk menggalakkan pemakaian renewable energy membuat produsen listrik seperti PLN dan IPP tidak memiliki alasan lain untuk tidak memulai memanfaatkan EBT. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan bukan saja ramah lingkungan, namun juga mengingatkan kita akan pentingnya keberlangsungan dan keseimbangan sumber daya alam baik yang tidak terbarui ataupun yang terbarui serta ekosistem lingkungan untuk anak cucu kita kelak.


















