
Foto di atas menunjukkan keadaan bumi saat malam hari. Anda bisa lihat negara kita dimana? Apakah daerah asal anda sudah terang?
Sampai dengan tahun 2014, menurut data rasio elektrifikasi PLN, Indonesia telah melistriki negaranya sebesar 82,8% dengan total kapasitas sampai Juni 2015 mencapai 51.620 MW. Namun, jika kita melihat gambar di atas, pulau yang paling terang adalah pulau Jawa. Berikut adalah data penyebaran elektrifikasi di Indonesia.

Pemerintah menyadari listrik belum merata di seluruh Indonesia. Data dari Outlook Energi Indonesia – BPPT 2015 menyebutkan, total kapasitas pembangkit listrik nasional di Indonesia tahun 2013 mencapai 45,3 GW, dengan 74% berada di Jawa Bali, 15% di Sumatera, 3 % di Kalimantan, dan sisanya berada di pulau Sulawesi, Maluku, NTB-NTT, dan Papua.
Lalu sebenarnya, permasalahan apakah yang menyebabkan Indonesia masih kurang dalam pasokan listrik? Berikut adalah infographic keadaan infrastruktur listrik Indonesia.

Terlihat pada data di atas, ternyata jalur transmisi dan distribusi yang telah di bentuk oleh PLN mencapai 840.000 km, setara dengan lebih dari 2 kali jarak Bumi dengan Bulan. Sumber fosil sebagai 75% bahan utama pembangkitan listrik juga nyatanya tersebar hampir seluruh pulau. Namun, mengapa masih 25% masyarakat Indonesia yang belum merasakan listrik? Kemana jalur listrik sepanjang itu mengular? Daerah di Indonesia Timur khususnya, 50% daerah Papua belum terlistriki, sedangkan di NTT listrik menyala bergilir selama beberapa jam saja. Pun dengan masalah kualitas listrik di kota-kota besar, dimana frekuensi pemadaman listrik mencapai 7 jam per-tahun.
Salah satu penyebab krusial ketidakmerataan dan kualitas listrik yang rendah ini adalah masalah infrastruktur jalur trasmisi dan distribusi yang rumit. PLN dalam salah satu seminarnya mengatakan bahwa salah satu syarat pengaliran listrik adalah sudah tersedianya fasilitas jalanan yang baik. Hal ini dibutuhkan agar pembangunan jalur kabel dan menara atau gardu listrik dapat terealisasi. Berarti, target Pemerintah untuk menambah pembangkit listrik sampai tahun 2020 sebesar 35GW pun tetap tidak akan dirasakan masyarakat pelosok jika fasilitas jalanan belum tersedia di daerah mereka.
Salah satu solusi pemerataan kelistrikan tanpa harus pusing dengan jalur transmisi dan gardu listrik adalah dengan menggunakan sumber energi tenaga matahari, atau dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). PLTS memanfaatkan teknologi Photovoltaic (PV) untuk menyerap intensitas radiasi sinar matahari yang terdiri atas beberapa spektrum warna dengan panjang gelombang yang berbeda. Dilihat secara geographic penyebaran potensi sinar matahari pada gambar di bawah ini, matahari secara merata menerangi seluruh daerah di Indonesia dengan potensinya sebesar 4,8 kWh/m2/hari atau setara dengan kapasitas listrik sebesar 112.000 GWp dalam satu tahun.

Jerman telah menjadi negara penghasil listrik bertenaga matahari terbesar dengan kapasitas PV yang telah terinstal sampai tahun 2014 mencapai 38GW, sedangkan Indonesia baru mencapai 10MWp. Walaupun potensi Jerman hanya 1/10 potensi Indonesia, mereka memanfaatkan secara maksimal potensi matahari di negaranya dari skala kecil seperti rooftop system sampai skala besar dengan solar farm. Kalau Jerman bisa, kenapa Indonesia tidak?
Pemanfaatan PV sebagai PLTS memiliki banyak keuntungan terutama bagi negara yang berbentuk kepulauan. Pembangkitan listrik dengan PV dapat langsung dipasang secara off-grid dan isolated atau berdiri sendiri tanpa harus menunggu dan tergantung oleh jalur transmisi PLN. PV hanya perlu dipasang di aera terbuka tanpa terhalangi bayangan apapun, misalnya di atap rumah dengan kemiringan 15 derajat (tergantung letak negara terhadap matahari). Jika matahari bersinar, PV akan menghasilkan listrik dan menyimpannya di baterai sehingga listrik yang dihasilkan dapat dinikmati di malam hari. Modul PV juga dapat dipasang dalam bentuk solar farm yang menghasilkan listrik lebih besar. Biasanya solar farm ditujukan untuk melistriki suatu kawasan, bisa secara isolated/ off-grid dan on-grid (terhubung ke jalur distirbusi PLN).

Solar Home System
Kita patut berbangga karena sebenarnya PLN telah memulai proyek Solar Home System sejak tahun 2005 dan ditargetkan selesai pada tahun 2025 dengan total kapasitas terpasang 0,87 GW. Solar Home System atau SHS adalah pemanfaatan modul PV untuk menghasilkan listrik dari tenaga matahari dengan kapasitas yang tidak terlalu besar dan cukup untuk menerangi satu rumah sederhana. Program SHS ini dikhususkan bagi masyarakat berpendapat rendah dan di pelosok daerah dengan dengan memberikan PV berkapasitas 50Wp secara cuma-cuma. Dan dalam target waktu yang lebih dekat yaitu tahun 2020, PLN telah merencanakan pengembangan PV baik SHS maupun solar farm sampai dengan 620 MW tersebar di hampir semua propinsi, seperti pada gambar di bawah ini.

Beberapa projek Solar Farm PLTS yang telah berhasil dilakukan Pemerintah bersama Kementrian ESDM, PLN, dan instansi terkait lainnya di beberapa daerah yaitu:
- Lombok Utara, NTB berkapasitas 2MW
- Gorontalo, Sulawesi Tenggara berkapasitas 2MW
- Sintang, Kalimantan Barat berkapasitas 1,5MW
- Desa Nanga Pinoh, Kalimantan Barat berkapasitas 1 MW
- Kota Baru, Kalimantan Selalatan berkapasitas 2 MW
- Tanjung Selor, Kalimantan Timur berkapasitas 1 MW
- Atambua, NTT berkapasitas 1 MW
- Bangli, Bali berkapasitas 1MWp
- Karangasem, Bali berkapasitas 1MWp
- Desa Oelpuah, Kupang berkapasitas 5 MWp (IPP)

PLTS Kupang 5 MWp
Proses pengembangan teknologi PV sebagai pembangkit listrik ramah lingkungan oleh Pemerintah patut diberikan dukungan dan dilaksanakan secara konsisten, kontinu, dan meluas. Banyaknya produk SHS yang telah ada di pasaran serta semakin banyaknya negara maju yang berlomba memanfaatkan matahari sebagai pembangkit juga membuktikan bahwa teknologi PLTS memberikan janji ketersediaan listrik secara terus menerus. Dengan kekayaan sinar matahari yang menyinari negeri kita, sudah sepatutnya Indonesia menjadi negara nomor satu penghasil listrik bersumber matahari dengan terus melakukan penelitian, pengembangan industri, dan ekspansi dalam implementasi PLTS di semua pelosok negeri.
Leave a Reply